Postingan

Penjara

Gambar
Aku ingin membahas ini, sepertinya ini menimpa banyak dari kita, bahkan mungkin, kita semua. Pernahkah kalian di posisi dibicarakan orang lain? Diperlakukan tidak adil? Direndahkan? Dipandang sebelah mata? Di suudzani? Disalahkan? Di kambing hitamkan? Aku pernah dan pasti, kalian juga. Kita hidup di Bumi Manusia, begitu kata Pramoedya. Manusia yang punya ego dan emosi, manusia yang punya masalahnya sendiri-sendiri. Maka, kejadian yang kusebutkan tadi, sangat mungkin terjadi. Terlepas apakah kalian benar bersalah atau tidak, terlepas apakah kalian dizalimi atau menzalimi. Saat kalian di posisi seperti itu, apa rasanya? Rungsing? Rieut? Sedih? Depresi? Aku mengerti. Tapi, sadarkah kita, bahwa semua perasaan negatif kita itu adalah penjara yang kita buat sendiri. Pada setiap kejadian, kita selalu dihadapkan dengan pilihan, tetap tersenyum dan jalan ke depan, atau terkurung dalam kesedihan. Satu-satunya hal yang membahayakan kita adalah perbuatan kita sendiri. Selama kita ti...

Anak Jalanan

Gambar
Kulitnya coklat mengilap, langkahnya tertutup suara bising jalanan. Aku duduk menatap jendela seperti biasa, berjuang untuk tetap berdzikir sementara kilatan lamunan muncul sesekali. Ia membuka suaranya, cempreng dan tidak enak di dengar. Kuperhatikan mereka dari pantulan di kaca, telinganya diberi tindik yang besar, matanya kuning seperti habis teler, bajunya belel, dan rambutnya kusam dibakar matahari. Aku bergidik melihatnya. Sembari terus melihat jendela, suara ukulele mulai terdengar dan syair mulai dinyanyikan. Untukmu yang duduk sambil diskusi Untukmu yang biasa bersafari Disana di gedung DPR Wakil rakyat kumpulan orang-orang hebat Bukan kumpulan kerabat Apalagi sanak famili Siapa sangka dibalik dekil dan bau badan mereka, syair politik keluar dengan mudahnya. Jadilah aku yang tadi memalingkan muka mulai memasang telinga. Aku menikmati setiap syair mereka. Rasanya ikut sakit juga hati ini melihat posisi mereka. Okelah mereka tidak berusaha dan telah m...

Tempurung

Gambar
Kalian tahu darimana penyebutan "Bule" untuk orang asing berasal? Yap, dari foto bapak-bapak di atas. Namanya Benedict Anderson. Waktu Indonesia dulu dijajah (emang sekarang udah merdeka? emm..), Benedict Anderson adalah salah satu orang asing yang tidak ingin dipanggil tuan. Ia ingin hidup dan dipandang sama oleh pribumi, orang melayu seperti saya. Makanya, ia minta dipanggil 'Bule' dan sejak saat itu, saya, dan kebanyakan orang Indonesia, menyebut orang asing yang kita lihat sebagai 'Bule" Hiduplah di Luar Tempurung! kata pak Benedict, itu, yang fotonya saya pajang di sebelah kalimatnya yang... saya pun ga ngerti dia ngomong apa, cuma karena keliatannya keren, saya ambil aja tulisannya yang itu. Jadi, udah keliatan keren belum? he.. Kemarin, saat mendung yang berakhir hujan deras, diskusi Cak Tarno membedah bukunya om Ben yang berjudul Hidup di Luar Tempurung. Bukunya bagus, ia membahas kotak-kotak sosial yang ada di sekitar kita. Kenapa ilmu...

Cinta dan Pernikahan

Gambar
Wahai anak generasi 90-an, adakah hari ini kau terdiam gagu memikirkan masa depanmu? adakan? ada pasti lah. Iya, betul memang bahwa kami kami ini, generasi 90-an telah memasuki pintu usia galau hakiki. Jika buku nikah belum juga dituliskan, rasanya ada yang kurang dalam hari-hari kita, iya kan? ngaku aja lah. Saya juga sedang mikirin karir, tapi nikah tetep kepikiran. Biasa itu mah, ga usah malu-malu gitu lah. Nah, yang ingin saya tuliskan disini, adalah tentang cinta dalam persepsi kita. Kita, generasi drama korea, mas boy, dan kawan-kawannya, berpikir untuk menikahi orang yang kita sukai kan. Ketika perasaan itu mulai timbul tenggelam kayak matahari pagi dan sore, pasti terpikir untuk dilamar /melamar orang yang kita suka kan? Kalau ditawari calon yang tidak kita suka, tatapan dingin pun memancar dan nada suara yang datar lantang terdengar. Entah mengapa, keinginan nikah bisa tiba-tiba sirna. Iya kan? Hei, kalian tahu, menikah itu tidak melulu soal cinta. Ada seorang lel...

Antara Idealisme dan Realita

Gambar
Ini sudah larut, bagiku. Hebatnya, saya masih bangun dan siaga pada jam segini. Padahal biasanya sudah dibawa ke alam mimpi. Baru tadi saya kembali membuka akun  media sosial dan scroll singkat beberapa kali. Walhasil, terbacalah sebuah tulisan yang isinya marah-marah, kemana mahasiswa katanya. Yah, saya ikut merasa dimarahi juga. Saya dulu juga aktifis, tapi sekarang sudah lulus dan bergabung dengan realita sampai sampai lupa, kalau ada yang harusa dibela. Hebat ya, baru juga lulus berapa bulan dan berhasil lupa dengan perjuangan empat tahun kebelakang. Tuntutan hidup luar biasa tinggi. Saya begitu fokus untuk mengejar pencapaian dan berkecimpung dengan hobi. Sudah jarang saya membahas pedagang kaki lima atau sekedar kritik politik yang tiada guna. Obrolah seperti itu, sudah jauh sekali rasanya. Malam ini jadi galau juga. Galau karena sadar bahwa saya sudah lupa idealisme dan termakan realita. Tapi mau bagaimana, hidup harus dihidupi dan kritik politk itu tak mampu men...

Review Buku: Tiga Pertapa

Gambar
 Tiga Pertapa Leo Tolstoy Beberapa hari yang lalu aku baru saja mengkhatamkan sebuah buku kecil yang sangat manusiawi. Beberapa detik setelah kalimat terakhir dalam buku ini, aku tersenyum dan menatap langit-langit yang kosong. Seperti kosongnya cerpen yang baru kubaca, sarat makna, hanya aku yang tak berhasil memecahkan teka-tekinya. Jadi, tersisalah kepalaku yang kosong karena tak berhasil menemukan makna lugas di dalamnya. Aih.. Ukurannya yang sedikit lebih besar dari foto berukuran 4R dan ia hanya memiliki 93 halaman. Sebuah buku yang bisa kau tamatkan dalam satu pukulan telak, iya kan?  Biasanya, banyak buku yang menuliskan judulnya dengan huruf besar dan menarik sementara penulisnya hanya dirulis kecil di bawah atau di sudut cover halaman. Tapi, tidak dengan buku ini. Ukuran huruf nama penulisnya jauh lebih besar dari judul bukunya, dan memang, nama penulis itu yang jadi daya tariknya. Yah, mungkin penerbit ingin bukunya laris terjual karena memang na...

Book Review: Chapter Two

Gambar
Chapter Two The True Nature of Humans In this chapter the explaination is based from the Islam holy book: Qur’an. As we talked before, the Islamic Psychology is based on two sources: Qur’an and hadiths and rational sources. At first, Dr Aisha told the story of Adam and Eve from Qur’an 2: 30-39. This story, the first creation of   human being is provide some lessons about human beings: placed on earth for a purpose, have eminent role in the world, blessed with valuable capabilities, have waeknesses, have potential to elevate themselves by submitting to guidence of Allah, and their key to salvation and happines is in believing and following the guidence that comes from Allah. Believing in existance of Allah is instinctive in human baings. This innate termed ‘fitrah’ and is generally defined as the pristine nature between humans that leads them to acknowledge the truth of Allah’s existence and to follow his guidence. The point is believing to the concept of ‘high...