Pelan pelan lepaskan
Hai. Aku sudah dewasa. Dahulu kala, pada setiap aku berdoa, kau tau, visual yang muncul di kepalaku adalah aku versi anak kecil duduk menghadap tuhanku, yang kucintai. Kemudian umurku terus bertambah, kewajiban dan tanggung jawab datang tanpa undangan. Lalu tibalah pada konflik2 besar kecil yang menyesakkan. Nah, disitulah, perlahan bayangan anak kecil itu memudar... kini, setiap kali aku berdoa, yang terbayang adalah aku versi sekarang, Ih waw! Bisa gitu ya bestie... Kemaren2 cita2ku utk menjadi dosen hampir saja tercapai, kemudian gagal. Nangisnya 2 hari, rasanya sakit sekali. Tak lama kemudian, aku menanyakan, mengutarakan, dan meminta pengertian kepada salah satu teman yang pernah kuanggap berarti. Tapi aku menyesal, aku tahu karakter temanku, kapasitasnya belum sampai. Kacamata nya berbeda, dan saat aku minta ia melihat dengan kacamataku, ditampik. Aih, kecewaku ini yaa, gara2 aku.. Sepertinya aku ini mudah berharap pada manusia, sedih tau. Harusnya sih aku tak pe...