Postingan

Pelan pelan lepaskan

 Hai. Aku sudah dewasa. Dahulu kala, pada setiap aku berdoa, kau tau, visual yang muncul di kepalaku adalah aku versi anak kecil duduk menghadap tuhanku, yang kucintai. Kemudian umurku terus bertambah, kewajiban dan tanggung jawab datang tanpa undangan.  Lalu tibalah pada konflik2 besar kecil yang menyesakkan. Nah, disitulah, perlahan bayangan anak kecil itu memudar... kini, setiap kali aku berdoa, yang terbayang adalah aku versi sekarang, Ih waw! Bisa gitu ya bestie... Kemaren2 cita2ku utk menjadi dosen hampir saja tercapai, kemudian gagal. Nangisnya 2 hari, rasanya sakit sekali. Tak lama kemudian, aku menanyakan, mengutarakan, dan meminta pengertian kepada salah satu teman yang pernah kuanggap berarti. Tapi aku menyesal, aku tahu karakter temanku, kapasitasnya belum sampai. Kacamata nya berbeda, dan saat aku minta ia melihat dengan kacamataku, ditampik. Aih, kecewaku ini yaa, gara2 aku.. Sepertinya aku ini mudah berharap pada manusia, sedih tau.  Harusnya sih aku tak pe...

Hm.

 Hai!  Memang benar, aku menulus saat sedih saja. Bahagiaku, malah menguap mengudara. Tentu saja tidak papa, darimana ada aturan bahwa menulis kesedihan maka harus pula menulis kebahagiaan. Kurasa, kebahagiaan akan terpancar, tak bisalah disembunyikan, sedang kesedihan, perlu kita uraikan. Baik, dari mana aku harus menguraikan kesedihanku ini, hmm... lagi lagi, ini soal teman. Aku yang punya sedikit teman ini, ternyata bisa sedih juga soal begini, kupikir, aku sudah cukup tidak peduli, tapi sakit juga rupanya. Menurut hematku, ternyata aku benar benar literally secara hafiah alone. Kenal iya, tapi teman? Kurasa teman tidak sama dengan kenal. Teman adalah seseorang yang menanyakan kabarmu disaat senang maupun susah, seseorang yang menghormati batasmu, dan tentu mendukungmu dengan hati dan perilaku. Aih, uwow ga sih kalau kita punya teman. Kurasa keluargaku adalah teman, uuh terharuu. Tetapi, pahit juga rasanya menelan fakta, bahwa dengan definisi di atas, aku ya, ga punya teman...

Sembuh

 Halo Dunia Maya. Sejujurnya aku megantuk sekali, setelah 2x kali minum vitamin yang dapat meningkatkan kualitas tidur, yah baguslah, vitaminnya bekerja. Tapi tulisan ini tak kalah pentingnya dengan kualitas tidurku, wkwk Aku bahagia, ternyata menjadi jujur pada diri sendiri, dan berani mengambil keputusan itu rasanya se-menyembuhkan ini. Betul ada perasaan yang mengiringi, orang orang yang sedih, menyayangkan, dan kecewa. Tapi, yah, kali ini, coba kutanya pada diri sendiri, mau sampai kapan batasanmu dilanggar terus?  Kemudian hening. Maka, kucoba untuk memberanikan diri, melawan konsep ideal masyarakat. Toh, yang penting, aku masih menghamba, berjuang, dan menghidupi hidupku sendiri kan? aih...  Memang partner open minded is the best. Syukurnya, partnerku begitu, mau bagaimana tidak? Ia melihat langsung, mendengar, dan terpaksa membuka pikirannya, demi maslahat di bawah atap yang sama. Mau tidak mau, mendukung keputusanku. Markicob. Mari kita coba, ucap ku. Kita lihat, ...

Cinta pertamaku.

Sebenernya baru selesai nyusun materi. Mencari soundtrack, munculah lagu ini.  Maku aku yang kecil ini, teringat cinta pertamaku. Jika ditanya, siapa cinta pertamaku? bahagia aku menjawab: Allah. Demi apapun wahai Rabbku, Seumur hidupku, Engkau yang pertama yang salalu aku pikirkan sebanyak itu. Engkau cinta pertamaku.  Kasih sayangMu, menyelimuti alam semesta, cantik langit ciptaanMu, menghibur hatiku.  Setiap gelisahku, Kau selalu punya cara dan tanda untukku. Hanya aku yang tidak tahu diri, mengkhianati cinta ini dengan banyak maksiat diri huhu, sedih deh Tapi, rasa cinta ini masih ada, ada sekali Justru karena ada, malu aku dibuatnya.  Malu, karena Kau selalu mencintaiku, dalam buruk dan baik, dalam kotor dan bersih, dalam lapang dan susah. Allahku, Kau selalu baik. Selalu. Bagaimana mungkin, aku tidak cinta? Mungkin, aku hanya salah satu pecinta dari jutaan pecinta lainnta, yang mungkin, mereka mencintaiMu jauuh lebih baik dari aku. Aduh aku malu. Tapi, layaknya...

Kesepian

Emang paling nikmat, menulis saat lagi emosional. Wkwk, setidaknya, agar aku sehat, itu saja. Yah, jadi mungkin ini titikku, titik dimana ternyata akhirnya, sedih juga rasanya. Memang benar buku itu bilang, menjadi pemimpin adalah menjadi kesepian. Tim kamu, bukanlah temanmu. Kau anggap keluarga, tp mereka bisa meninggalkanmu kapan saja. Kau menaruh hati pada mereka, mereka hanya manusia, yang juga pilih pilih, pada siapa mereka menaruh hatinya, dan kamu, belum tentu mendapatkannya. Tapi kalau kau tidak menyukai mereka, kau membawa kebinasaan pada banyak manusia. Hingga, kau tak punya pilihan, selain cinta bertepuk sebelah tangan. Lagi lagi, bicara hal hal yang bertepuk sebelah tangan... sakit, itu saja.. Di usia ku ke 30, terjadi beberapa kali, aku hanya bertepuk sebelah tangan, dan ternyata, memang itulah peran, tugas, dan perasaanku yang seharusnya, saat mendapat suatu amanah. Memang amanah, adalah musibah. Bukan hanya urusannya yang banyak, tapi perasaan kacaunya juga tak kalah ban...

Misteri.

Terkait kisah retaknya persahabatan kami, memang sahabat bukan sembarang sahabat si itu. Di hari air mata mengalir, disitu aku tak tau harus berdoa apa selepas sholat, kerjaku hanya menangis saja, dengan mukena dan sajadah yang terhampar. Singkat cerita, berlalu lah sebulan kemudian. Saat hati telah mantap, yasudah, mungkin memang ada yang harus pergi, ada yang tinggal di hati. Aku sudah tidak naif lagi. Juga, terasa olehku, Allah hibur aku dengan datangnya yang lain, yang klik, saling menolong, dan yah, semacam pengganti mungkin (?) Hatiku telah belajar. bahwa bertepuk sebelah tangan itu, seharusnya dilepaskan. Lalu ia datang kembali, bercerita bahwa setelah kejadian itu, aku hadir di mimpinya 2 Minggu berturut turut tanpa jeda, membuatnya merasa bersalah tak karuan, hingga ketika hari dimana aku tak lagi muncul di mimpinya, ia sedikit merasa lega. Maka terujarlah maaf, dan sebuah genggaman tangan yang erat. Kami kembali bercerita, bersenda gurau seperti biasa... Tapi, aku kosong. Tak...

Waktu

 Aku mencoba, menghapus mereka yang tak perlu, dari hatiku. Sebagaimana mereka, menganggapku sekedarnya. Aku mengakui bahwa sedih ini, adalah kebodohanku sendiri, dan hari hari terjalani, dengan kondisi hati yang berbeda dari sebelumnya. Tapi, kupikir itu mudah. Nyatanya nyes nyes selalu ada. Setiap ku ingat, bahwa aku hanya sekedarnya, masih nyes rasanya. Padahal waktu bersama kita itu panjang dan lama. Siapa sangka, kita menjadi asing dengan mudahnya. "kalau memang ga cocok, semesta akan memisahkan kamu dari siapapun itu, akan selalu ada jalan, untuk memiisahkan" Mungkin ini maksudnya. Padahal aku sudah berusaha, bertanya, ada apa dengan kita. Tapi semakin sakit, saat melihat respon dinginnya. Barulah ku sadar, hangatnya, hanyalah sifat belaka. Ternyata, aku ke ge-eran begitu lama. Ngenes. Sahabat bertepuk sebelah tangan. Sad girl~ dan, butuh waktu, sampai kapan ya... agar nyes nyes ini hilang. Memang aku introvert, kaya ga butuh teman, tapi ternyata, sakit juga. Tapi yasud...