Postingan

Posisi

Setiap kita, punya tempat dan posisi di hati orang lain. Kita saling menempatkan satu sama lain, dan aku, baru sadar sekarang. Benar kata dosenku dulu, aku naif, naif mampus. Sekilas aku mendengar kalimat iri dr sahabatku, sekilas aku mendengar kalimat merendahkan dari sekitarku, sekilas, aku sedih sedetik, kemudian ku abaikan.  Sahabat tetap sahabat, terdekat tetap terdekat. Nah, disitulah bodohnya. Baru sekarang aku menangis kan, rasain, ya itu karena aku memendam kebodohan begitu panjang. Padahal sudah diingatkan, jangan naif. Maksudnya, jangan polos, jangan bodoh, jangan mengabaikan detail penting di sekitarmu. Kalimat sekilas sekilas itu, terungkap sudah, bahwa ternyata memang, tempat dan posisimu di hati mereka, tak lebih dr sekedar tontonan belaka. Minta pendapat dan bercerita padaku, tak selalu ada artinya. Sekali kau berantakan, langsung disebutkan. Sekali kau membuat kesalahan, langsung diperhatikan. Aih... Lama aku tak menangis setulus ini. Patah rasanya, menyadari bahwa...

Takut

Memang manusia punya pikiran yang liar. Sulit dikendalikan, menyasar segala arah sana sini. Tetiba takut. Segala pikiran buruk hingga yang terburuk muncul apa adanya. Soal anak, tak bisa diganggu gugat. Muaraku, bagian dari diriku. Takut, hal buruk terjadi, dan aku, entah bagaimana, mungkin kehilangan cara menjalani hidup ini. Semoga, semua pikiran buruk ini hilang dengan kenyataan yang membahagiakan. Sehat, sehat, sehat. Ya Allah, kabulkan doa seorang ibu yang mencintai Engkau dan anugerah yamg Engkau berikan ini. Larut dan gelisah.

Sulit

adalah mengakui bahwa cacat diri itu ada. Pengakuan dewasa, yang mau belajar, mau menerima, mau memaafkan, dan melihat itu sebagai hal biasa. Adaptif, adalah ciri mental sehat dan kuat. Ia tidak rigid, ia fleksibel, ia lentur, ia bertumbuh. Dan aku, ingin seperti itu. Ternyata sulit keluar dr diri yang perfeksionis ini. Aku tak suka perfeksionis diriku. Banyak hal aku tak suka dari diriku. Mungkin, aku harus mencari pertolongan. Haruskah?  Ternyata. Sulit.

Terapi

 Wow. Aku membaca sebuah buku, judulnya: the book you wish your parent had read. Iya, judulnya sepanjang itu, dan isinya juga bikin kepikiran panjang banget. Katanya, reaksimu ke anak kamu, sebenarnya bukan gara gara anak kamu yang salah, tapi emosi itu adalah emosi kamu waktu kecil yang kamu pendam begitu dalam dan kamu lemparkan ke anak kamu saat kalian berada di situasi yang kurang lebih sama. Yah sederhananya, aku marah karena anak ga nurut, anak kecil ya, masih 4 tahun, sebenernya marahku itu bukan ke anak ku, tp itu marahku waktu kecil yg ga bisa dikeluarin karena aku terpaksa harus nurut. Semakin aku baca, semakin aku sadar, sepertinya aku adalah anak kecil yang tumbuh dengan dipenuhi rasa takut  Memang pengasuhan jaman dulu kan dipenuhi ancaman ya  Setiap orang pasti punya inner child issues nya masing masing yah. okeh, okeh, okeh! Aku berubah. Buku itu bilang, kalau kamu merasa mau meledak ke anak kamu, atau kamu mau berbuat sesuatu negatif ke anak kamu, cb kamu ...

Ternyata

Ternyata, aku sayang banget sama anakku  Aku kaget, ko ada ya perasaan sebesar ini. Tadi pagi aku mengajar, dua anakku masuk kelas, yang besar aku suruh keluar, dia tanya sederhana, kenapa harus keluar? matanya berbinar  Hatiku patah, kenapa aku harus mengusirnya, betapa teganya aku Sedetik kemudian, ku dudukkan ia di kursi guru, biarlah, aku sayang anakku, tak tega aku membuatnya merasa tersingkir meski sedikit. Di waktu lain, anakku sakit, berkali kali sakit. Tak apa, aku tahu akan sembuh, sampai suatu ketika, jalan raya kecil ini terasa begitu panjang. Aku menangis juga. Terbayang sakit yang ia rasakan, lagi lagi, patah hatiku. Di waktu lain, anakku mengeluh pelan tentang hatinya yang patah, terdiam aku dibuatnya, sedetik kemudian, jadilah aku badut, atm, dan motor yang membawanya kemana ia mau, lagi, di dalam sini patah hatiku. Di waktu lain, anakku menyentuh benda panas, aku berteriak, memeluk dan memegang erat tangannya yang panas, berharap panasnya, pindah kepadaku, dan...

Hari ini

Hidup adalah menjalani hari ini.  Itu saja, sederhana. Kau gagal atau berhasil, bermasalah atau lempeng saja, kau, sudah hidup hari ini. Hidup hari ini, menjadi begitu menarik. 4 jam bersama telepon pintar, menipiskan kesabaranku, membesarkan ekspektasi ku, membuat hati, terasa berisik. Tapi, aku sudah hidup hari ini Anakku, suamiku, duniaku, berjalan hidup hari ini. Hari ini, ingat saja hari ini. Aku harus terus mengingatnya. Hari ini, hidupi hari ini. Berat, tak apa, aku sudah hidup. Aku senang jadi mamah mamah Aku senang punya pasangan  Aku menikmati ini, syukurku atas semua yang baik, dan semoga aku bisa sabar, untuk semua yang membuat sakit. Dulu dulu, sesak rasanya belum bisa dewasa. Sedih saat sulit memberi maaf, dan marah saat salah mengambil sikap. Sekarang, aku hidup hari ini. terus kenapa, anakku sudah meninggalkan masa bayi nya, dan aku, sedih karena nya. Aku ingin waktu berjalan lebih lambat, tak apalah tak dewasa bbrp kali, tak apalah belum bisa lupa sama sekali ...

Terima Kasih

Aku, adalah orang yang sibuk di dalamnya.  Aku ingat betul kesalahan-kesalahanku. Dalam sunyi kusesali dengan istigfar yang yah, sampai anakku bertanya, umi kenapa istigfar terus? Banyak dosa uminya, jawabku singkat, padat, dan pilu. Dalam banyak situasi, aku khilaf kata dan sikap. Pada banyak pertemuan, tak terasa kalimat yang membuat canggung terlontarkan.  Aih... malam ini aku baru selesai menyelesaikan tugas administrasi seorang Kepala. Dipikir-pikir, aku sudah berusaha.  Terima kasih wahai diri, untuk semuanya. Kamu sudah berusaha menjadi ibu yang baik, perhatian, mengamalkan ilmu yang kamu tau, disiplin, dan jadilah anak-anakmu yang juga disayang orang-orang Kamu sudah berusaha me-manage rumah-kerjaan-juga pendidikan anak-anakmu hingga tetap mampu disiplin waktu pada kedua anakmu. Kamu mampu menidurkan mereka setiap hari sebelum jam 9 malam, kamu mampu sarapan, makan siang, dan makan malam bersama anak-anakmu di jam yang sama setiap harinya, kamu mampu memandikan me...