Hm.
Hai!
Memang benar, aku menulus saat sedih saja. Bahagiaku, malah menguap mengudara.
Tentu saja tidak papa, darimana ada aturan bahwa menulis kesedihan maka harus pula menulis kebahagiaan. Kurasa, kebahagiaan akan terpancar, tak bisalah disembunyikan, sedang kesedihan, perlu kita uraikan.
Baik, dari mana aku harus menguraikan kesedihanku ini, hmm... lagi lagi, ini soal teman. Aku yang punya sedikit teman ini, ternyata bisa sedih juga soal begini, kupikir, aku sudah cukup tidak peduli, tapi sakit juga rupanya.
Menurut hematku, ternyata aku benar benar literally secara hafiah alone.
Kenal iya, tapi teman? Kurasa teman tidak sama dengan kenal.
Teman adalah seseorang yang menanyakan kabarmu disaat senang maupun susah, seseorang yang menghormati batasmu, dan tentu mendukungmu dengan hati dan perilaku.
Aih, uwow ga sih kalau kita punya teman.
Kurasa keluargaku adalah teman, uuh terharuu.
Tetapi, pahit juga rasanya menelan fakta, bahwa dengan definisi di atas, aku ya, ga punya teman.
Menanyakan kabar? Tiba2 gitu sekedar memastikan aku baik baik saja? Hmm, nope, tidak ada. Ada, dan itu keluarga, sudah.
Mendukung dengan hati dan perilaku? Ya ada namun tidak konsisten, terkadang terbawa suasana oleh angin yg berhembus membicarakan aku, terkadang mendukung jika itu menguntungkan mereka, terkadang pun diam saja, dan lagi2 aku mengerjakannya sendirian saja.
Aih, wahai Allahku, aku tak berharap apa apa, tapi begini ya rasanya, duduk bersama emosi sedih yang kau ciptakan untuk manusia.
Sakit juga.
Purwakarta
Cerah! Tidak seperti hatiku.
Komentar
Posting Komentar