Rabu, 15 Maret 2017

Galau dan Penurunan IQ

Halo dunia~
Saya mau cerita...

Sekitar satu  tahun yang lalu, atau lebih ya, saya juga lupa, saya pernah tes psikologi lengkap seharian penuh. Ceritanya saya jadi bahan tes anak pascasarjana fakultas psikologi Unpad. Ketika itu saya sedang pusing binti mabok sama sebuah entitas bernama skripsi.

Sebagai mahasiswa akhir yang sering kelaparan, mendapat tawaran makan gratis mulai dari pagi sampai makan malam tentu menggiurkan. Saya pun pasrah mengikuti serangkaian tes demi nafsu makan yang terpuaskan, hehe...

Tapi, emang dasar saya yang ga kepo, bahkan sama diri sendiri, saya pun menolak ketika ditawarkan untuk melihat hasilnya. Saat saya ditraktir makan malam setelah selesai tes, yah, namanya juga ngobrol, akhirnya saya tau juga sedikit tentang hasil tes saya karena memang dikasih tau sama tetehnya, padahal ga nanya.

Intinya, terkuak lah kalau saya memiliki IQ yang tidak sama dengan orang-orang. Saya pikir saat itu wajar karena tiap hari saya mikir gara gara skripsi, jadi wajar kalau jadi pinteran dikit, kan mikir terus. Hehehe

Kemudian waktu berjalan, terkadang meninggalkan, terkadang berjalan bersamaan. Tiba-tiba, di suatu hari dengan sengaja, datanglah seorang lelaki yang ngaret sampai tiga jam.

Saat itu saya berpikir, kok aku mau maunya nungguin, kayaknya IQ berkurang nih. .

Singkat cerita, sejak kedatangan pemuda itu, saya mulai paham apa yang disebut dengan galau, galau dalam artian mikirin lawan jenis ya.

Sebelumnya, pemahaman saya tentang suka-sukaan, cinta-cintaan, hanya datang dari hasil observasi dan wawancara mendalam (dengerin curhatan). Saya ga tau, apakah saya yang ga peka sama diri sendiri, atau memang sebelumnya saya belum pernah merasakan galau. Ga tau. Yang jelas, saya ga terlalu peduli sama yang begituan. Suka ya udah, ga suka, yaudah juga. 

Nah, sejak saya mulai mengenal wujud perasaan bernama galau, saya akui, saya jadi kurang produktif, meskipun skripsi tetap selesai sesuai jadwal, tapi naskah tulisan saya selesai belakangan.

Suatu ketika, saya dapet teori so tau- dari seseorang yang memang menurut saya, rada so-so an cukup dewasa sedikit belagu.
Teorinya berkata, bahwa jika orang di atas usia 22 ke atas merasa galau, bakal berpengaruh besar pada keseharian mereka. Usia saya waktu itu masih 21, dan saya ga terlalu percaya sama teori itu. Masa si? Kata hati saya, waktu itu.

Tapi, setelah setahun berlalu dan ternyata, perasaan galau itu tidak menghilang secepaat sendal jepit di mushola. Ia cukup awet seperi jerawat batu di dahi atau dagu, dan saya, jadi teringat teori teman saya yang so tau itu, bener juga ya ternyata.

Alhamdulillah-nya, aktifitas sehari-hari membuat saya cukup berhasil kabur dari perasaan galau. Kalau sedang dalam aktifitas bengong, di jalan, kamar mandi, jogging, atau apapun yang membuat kita hanya bisa diam dan tidak ngobrol. Pikiran yang terlintas paling dzikir sedikit, hasil memperhatikan sekitar, memori kehidupan, metode belajar, organisasi, amanah, cara dapet uang, project naskah berikutnya, dan lain-lain yang sifatnya duniawi. Tapi kadang juga menahan sabar karena kemacetan dan terik matahari, hehehe.

Tapi, kalau tiba-tiba kesambet setan galau, tetap saja, jadi galau.

Akhirnya, kalau saya kalkulasi waktu yang saya punya, Sepertinya waktu galau itu bisa menyita hampir 15-20 % waktu saya, angka yang cukup mengganggu dan bikin saya kesel, aslinya.

Kemudian saya berhipotesis, ih meni ga jelas gini, jangan jangan jadi bodo lagi gara gara galau 

Maka, atas nama iseng dan kabur dari pe er yang harus dikerjakan, hipotesis pun ditindaklanjuti. Saya mengikuti sebuah tes IQ online, soalnya gratisan (hehe), untuk nge-cek apakah hipotesis saya benar atau tidak.

Ceritanya saya memang, dan lagi kepo, apakah si 20 % galau ini berpengaruh pada kemampuan intelegensia seseorang atau tidak. Khususnya saya yah, kalau orang lain si ga tau.

Dan ternyata hasilnya adalah..
Iya, berpengaruh.

Serem ga si..

Memang angkanya tidak jauh berbeda dari IQ sebelumnya, dan tes online belum tentu akurat, tapi tetap saja, berkurang sekitar 3-5 poin.

Kebayang, kalau saya terus terusan galau, bisa bisa IQ saya menurun secara gradual. Aduh...

Jadi, melalui metode introspeksi dan eksperimen terhadap diri sendiri, yang kemudian diturunkan menjadi logika berpikir silogisme:

Premis 1 : Saya (A) kenal persaan galau (B) : (A -> B)
Premis 2 : Sejak saya kenal galau (B), IQ saya berkurang (C) : (B -> C)
Kesimpulan : Sejak saya kenal galau, IQ saya berkurang. (A -> C)


Saya membuat kesimpulan tidak ilmiah, bahwa galau bisa menyebabkan kebodohan.

Memang, tidak ada kepastian bahwa turunnya angka 3-5 poin itu karena galau atau bukan. Bisa jadi karena kondisi saya kurang fit, tekanan, hidup, makan ciki dan mie, atau yah banyak faktor lainnya lah. Tapi.... akui saja, saat kita galau, kita tak berpikir secara rasional. Kita sibuk menebak-nebak, mengait-ngaitkan hal yang tidak ada hubungannya, khawatir tak berdasar. Iya kan?
Nah, ketidak-rasional-an itu, kalau jadi kebiasaan, akan berakibat pada kebodohan.

Baiklah, sejak kesimpulan dhoif itu telah keluar, saya punya solusi untuk diri saya sendiri, atau, kalau kalian mau ikut menjalankan juga silahkan. Tidak ada paksaan saat membaca blog orang.

Pokoknya, kalau setan galau merasuk, saya punya tiga opsi, jikir, baca, atau langsung tidur saat itu juga. Titik. 
 
Terserah, mau galau di angkot, di bis, di jalan, di kasur, di kamar mandi, bodo amat.

Akan lebih seru kalau kesimpulan saya ini didukunng sama penelitian dan data sungguhan, hehe, apakah benar, bahwa galau mengenai lawan jenis, mengakibatkan kebodohan?

Atas nama iseng
Nida.

Selasa, 14 Maret 2017

Tulisan dan Penulisnya

Iya, akhir akhir ini saya sering nulis blog. Salahnya, nulis di blog adalah salah satu cara beristirahat dari hidup yang fana ini, aih....

Jadi, semakin sering saya nulis disini, bisa dibayangkan kan? Berapa pekerjaan yang belum dikerjakan,
hehehe.

Kemarin saya membagi atau menge-syer atau memamerkan tulisan soal sudut pandang saya tentang laki-laki, dan, poof!
Beberapa ngejapri, kemudian...

Alis bertemu
Jari-jari kaku
Bibirku...
jadi lebih mancung dari hidung

Gaes gaes gaes...

Jangan selalu mengaitkan kondisi pribadi penulis dengan apa yang dia tulis.

Iya, itu ada benarnya, Memang para penulis memiliki penghayatannya sendiri. Angin adalah lukisan, air mata adalah inspirasi, peristiwa adalah fiksi, emosi adalah jari jari yang menari. Karena memang, menulis adalah seni. Adakalanya penulis menulis hal yang terjadi pada dirinya, penghayatannya, filosofinya, perasaanya, pemikirannya, kemarahannya, dan banyak hal lainnya.

Tapi, adakalanya juga tidak.

Kalau di dunia ini ada makhluk yang tak bisa ditebak, mereka adalah para penulis. 

Terkadang, penulis bisa menulis hal yang berbanding terbalik, 180 derajat, dengan dirinya sendiri, terkadang, juga sama persis dengan kondisi hati mereka. Dan kalian para pembaca, tak akan tahu..

Memangnya
Kalau saya nulis soal laki-laki, sudah pasti saya lagi mikirin laki-laki tertentu?
Kalau saya nulis tentang pernikahan, sudah pasti saya lagi galau?
Kalau saya nulis tentang pendidikan anak, sudah pasti saya ngebet pengen punya anak?
Kok kalian bisa yakin gitu?
Kalian ahli nujum?

Ah, kalian.

Tiap hari saya nulis artikel
Isinya macem-macem
Terus, kondisi hati saya juga seperti artikel yang saya kirim
gitu?

 

Sabtu, 11 Maret 2017

Laki-laki Lemah

Bismillahirrahmanirrahim

Kita bicara fenomena, karena memang itu yang ada di sekitar kita. Saya, sering mendapat curhatan beberapa teman laki-laki, atau mendengar komentar beberapa teman laki-laki saat berusaha mendapatkan seorang wanita. 

Kalian, memutuskan maju atau mundur bergantung pada sikap perempuan tersebut. Iya kan?

Kalau sekiranya permepuan itu juga menunjukkan tanda--tanda penerimaan, kalian maju. Tapi kalau perempuan itu diam tanpa sinyal atau menunjukkan penolakan, kalian mundur perlahan.

Ah, opurtunis.

Mana kepemimpinan kalian sebagai laki-laki? Kalian pembuat keputusan masa bergantung pada sikap perempuan?
Saya tahu, laki-laki itu bagaimana perempuan, tapi masa kalian tidak punya prinsip? Kan kalian imam, kan Allah telah melebihkan kalian.

Kalau memang kalian laki-laki, seharusnya keputusan itu bergantung pada kalian sendiri, bukan bagaimana perempuannya.
Mau dia jadi ibu dari anak-anak kalian ga? Kalau iya, ya maju.
Bukan, gimana dianya deh ya, kalau dia mau saya mau, dia ga mau, yasudah.
Ini nih laki-laki lemah.

Kalian harus tau apa yang kalian mau dan berjuanglah untuk itu. Itu baru ganteng.

Kalian yang ambil keputusan, kalian yang punya pertimbangan, saya percaya, semua laki-laki di dunia ini pintar. Kan kalian makhluk sembilan logika satu perasaan.

Saya sudah maju teh, saya ga menyerah, terus saya ditolak. 
Ya sudah, duduk, sabar, bangkit lagi. Buat perempuan itu menyesal.
Perempuan kan ada banyak?
Tapi saya suka banget teh sama dia, saya ga bisa kalau ga sama dia.
Kamu laki-laki. Kamu nahkodanya, jangan menghinakan diri di depan perempuan.  
Menghinakan diri gimana teh?
Itu, sangat bergantung pada perempuan.

Kan kita punya contoh nabi Yusuf yang tahan meskipun digoda putri cantik? Kalian, belum juga digoda seperti nabi Yusuf, udah nyalah-nyalahin perempuan. Perempuan yang mengundang lah, perempuan yang ngasih jalan lah, ya itu si emang kalian juga yang ga punya prinsip.
Kalau kalian punya prinsip, kalian ga akan tergoda seperti nabi Yusuf yang tetap kuat.  
Kalau kalian punya prinsip, kalian akan bertahan meski ditinggal, kan ada nabi Ayyub yang ditinggal istrinya, atau nabi Luth yang dikhianati istrinya, terus kemudian mereka jadi lemah? No.

Semuanya bukan melulu gara-gara perempuan
Tapi kualitas kalian sebagai laki-laki lah yang lemah 
 
Wahai bangsa Adam, bangun.

Kalian pemimpin, nahkoda, dan banyak sejarah mencatat para laki-laki kuat yang merubah dunia. Kalian juga bisa. Saya saja sebagai perempuan terkadang iri dengan keleluasaan kalian sebagai laki-laki. Saya tak bisa melakukan hal-hal yang kalian bisa lakukan. Bukan saya merasa terkungkung, tapi saya punya jalan takdir yang berbeda.

Optimalkan keleluasaan kalian. Maksimalkan kekuatan, jadilah laki-laki bermental kuat. Maju terus dan kalian lah yang mengambil keputusan. Bukan sekedar opurtunis.

Satu lagi, kalau kalian mau memilih perempuan, pilihlah perempuan yang kira-kira, bisa kalian pimpin.
Bukan sekedar mencari perempuan yang bisa membuat kalian bermanja-manja. Nahkoda yang cerdas akan memilih awak yang berkualitas.
Awak yang bisa dipimpin, yang tidak menyusahkan, yang kalian percaya, yang bisa diajak bekerja sama. Begitu kan?
Kapal itu berlayar untuk mengarungi ombak, bukan diam di pelabuhan atau jadi pajangan Makanya butuh tim yang hebat agar kapal tak karam dan sampai di tujuan.

Setiap awak membutuhkan nahkoda. Jangan khawatir, kalian pasti dapat pasangan. Tinggal apakah kalian sebagai nahkoda, mau memampukan diri jadi pemimpin sebuah pelayaran. 

Depok, 12 Maret 2017
Panas menyengat
Dari hati yang gemes
Nida.

Laki-laki dan Konsep Ganteng

Selamat Malam retina!
Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Sembari nunggu instalasi sebuah program ilmiah di laptop yang renta ini, saya cukup tergelitik melihat layar kaca di kantin Asrama Mahasiswa yang menayangkan tamu artis pria, yang katanya, ganteng dan populer. Mereka di datangkan untuk mendongkrak rating acara tersebut, ya iyalah ya, dan saat mereka masuk ke studio, aih, amit-amit, para perempuan menjerit tak karuan bak kesurupan. Aduh...

Saya akui, kita hidup di jaman teknologi dan paparan budaya tak lagi terbendung. Kaum wanita Indonesia berkulit sawo dan kuning langsat ini menjejali mata mereka dengan berbagai potret laki-laki lintas budaya jauh disana. Entah Korea, Amerika, Spanyol, Eropa, Turki, Inggris, Tukmenistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Nigeria, Syiria, atau bahkan, Timbuktu. Entahlah

Ah, yang jelas, kita terbiasa melihat model manusia lain yang hidup di sudut bumi yang berbeda dengan kita, iya kan?

Sayangnya, paparan potret manusia luar daerah itu, entah bagaimana, menjadi dominan dan jadi konsumsi harian para penduduk yang polos. Bagus, aslinya bagus,

Kita jadi mengenal dunia luar, salju, gaya bahasa baru, cara hidup yang sebelumnya kita tak tahu, betapa, betapa menambah pengetahuan. Bagi... yang merasa bertambah pengetahuannya.

Tapi, rasa kagum terhadap potret fisik mereka perlahan mendarah dan menetap di memori kita, menjadi suatu kiblat baru untuk melihat dan menjustifikasi fisik diri kita sendiri, atau orang lain. Mata para wanita dibuat betah memperhatikan fisik laki-laki yang ada di layar kaca.
Hey, sadar ga si? Itu sama saja dengan tidak menundukkan pandangan.
Dimana malu kalian sebagai perempuan?

Saya jarang nonton, dan saya, merasa malu kalau harus melihat foto laki-laki. Bagaimana bisa kalian tahan melihat wajah laki-laki dan menjerit karenanya? Kalau gini terus wanita bisa turun derajat, aduh.

Belum lagi,  berbagai produk kosmetik, baik untuk laki-laki maupun perempuan yang menggembor-gemborkan khasiat ajaib, membuat kita berusaha agar fisik kita bisa tampak seperti mereka.

Hello, yu ar orang indonesia, pliss... white in 2 weeks? My God, what kind of pigmen that you killed?

Tapi, yasudahlah, toh ingin memiliki fisik seperti apa, itu pilihan, apakah kita akan mensyukuri dan merawat sesuai kodrat, atau bertindak tegas merawat melawan kodrat dan bekerja keras. It's your own choice.

Kenyataanya, rasa takjub kita terhadap fisik orang lain memunculkan harapan untuk mendapat pasangan yang beda sedikit lah sama yang kita lihat di media.
Mengheningkan cipta, mulai...
KIta mau dapet suami kaya Lee Min Ho? Emang kita sudah sama dengan Park Shin Ye? Engga kan. 

Oke, saya terima setiap kita punya hak untuk memilih definisi ganteng seperti apa yang kita mau, tapi tahukan kalian bahwa sejarah juga menunjukkan trend ganteng yang berbeda-beda dari masa ke masa. Dan masa sekarang, adalah trend yang menurut saya, paling aduh deh pokoknya.

Kalau dulu laki-laki ganteng adalah yang punya banyak bekas luka peperangan, terus bergeser jadi kumis panjang yang disisir, terus bergeser lagi jadi otot besar dan menggelembung, dan sekarang? kulit putih, halus, dan tinggi. Aih... Ya ga papa sih..

Tapi sampai kapan kita melingkari diri dengan konsep keindahan fisik yang terus berganti ganti? Lupakah kita bahwa ada yang lebih menarik dari sekedar fisik? Ingatkah kita pada sikap si ganteng yang tukang PHP perempuan? Bagaimana? Masih ganteng?

Your beauty stole my eye, but your personality, stole my heart

So, apa yang mau dicuri wahai para wanita? sekedar mata, atau hati yang terpesona?

Para wanita, kita ini makhluk yang butuh perlindungan kan, bagaimana mungkin kulit putih yang kalian cari-cari itu bisa melindungi kalian dari sikap kasar dan menyakitkan? Badan yang tinggi itu akan menjaga hati kalian dari perkataan yang melukai? Katanya pengen bahagia...

Prinsipnya:
Setiap manusia akan mendapatkan apa yang ia mau

Kalau hati kecil kalian dipenuhi dengan keinginan bersama laki-laki ganteng konvensional, kalian akan mendapatkannya. Tapi mungkin kalian tak bisa tertawa bersamanya, atau mungkin latar keluarganya tak bisa membahagiakan kalian, dan banyak kekurangan lain yang bisa lebih menyakitkan. 

Bukan, bukan gak boleh cari yang ganteng, tapi ubahlah konsep ganteng kalian. Sebelum semua terlambat, segeralah bertaubat.

Dan, untuk kalian kaum adam.
Saya tahu kalian sebenarnya tak punya banyak masalah dengan kondisi fisik kalian. Kalian adalah makhluk yang dapat mencintai diri sendiri dan tetap merasa ganteng di mata kalian sendiri.

(Saya gak bicara pria metroseksual yang hobi dandan ya, itu si beda kasus)

Tapi, tahukah kalian,
Saya saja sebagai perempuan, melihat teman laki-laki yang terus meng-upgrade diri, lama-lama jadi semakin ganteng dari hari ke hari. Ada kharisma yang terpancar, ada pesona yang menyeruak.

Be the best version of yourself guys. 
Karena seorang laki-laki yang terus memperbaiki dirinya, akan mengeluarkan aura maskulinitas yang dicari para perempuan. Aslinya.

Cukuplah menjadi bersih,
bersih diri, bersih hati, pikiran, lisan, dan perbuatan. Hehe, definisi bersihnya jadi berat ya..

Akui saja, selama ini kalian hanya terlalu malas untuk memperbaiki diri dan merasa bahwa apa yang ada saat ini baik-baik saja Akui, bukan baik-baik saja, tapi kalian yang malas untuk bekerja lebih keras.
Ganteng itu, kerja keras, kerja cerdas. catat.

Satu lagi ya, selain malas, sebenarnya kalian juga terlalu sering galau, memikirkan si A, masa lalu, dan keindahan yang hanya hidup di kepala kalian. Semakin sering kalian galau, semakin menurun tingkat kegantengan kalian.

Saya sendiri memiliki definisi ganteng fisik menurut versi saya sendiri, dan itu tidak sama seperti yang ada di televisi. Setiap orang punya seleranya sendiri. Setiap kutub utara akan menarik kutub selatan-nya sendiri. Yakinlah, kalian akan menjadi menarik menurut pengagum kalian sendiri, selama pribadi kalian, adalah pribadi yang pantas untuk dikagumi.

Trust me, it works.  
Nida.






Kepada

Kepada,
Gerimis yang sabar dan panjang, seseorang di sudut sana berdiri berbaju lembap menunggu.
Terik panas yang intensif, seekor burung berteduh di atas dahan rapuh barang sebentar
Mendung yang menenggelamkan, muda-mudi hilir mudik tertawa melepas lara

Kepada,
setiap cuaca mewarna bumi, layaknya emosi yang silih berganti,. Perasaan tak cukup baik menyelimuti menyisakan nanar mata memperhatikan sekitar. Gadis-gadis aku tak peduli. Pemuda lain aku tak hiraukan. Hanya kerja tak cukup keras menyisakan penyesalan.

Kepada,
setiap gejala alam yang terjadi, layaknya memori tersimpan dalam laci. Penghayatan tak dalam meninggalkan dosa yang bergelimpangan. Kucing berebah memamerkan perutnya yang bunting, berkali-kali bunting, dan aku, bukan kucing.

Hal ihwal yang tak kita bicarakan
biar jadi rahasia
menyublim ke udara
hirup
hidup-hidup.


Depok, 11 Maret 2017
Mendung melengkung
Silently break.
Nida.

Dosa

Mereka bertanya
...apa itu dosa?
adalah
iman yang tergesa-gesa


Nida.

Selasa, 07 Maret 2017

Perempuan #1

Perempuan itu seperti bunga
Selamanya bunga tulip tidak akan menjadi bunga matahari
Selamanya bunga matahari tidak akan menjadi bunga mawar
Mereka punya takdirnya sendiri-sendiri

-Mata Hari-

Ciputat, 7 Maret 2017
Demam turun
Hujan turun
Nida.